laporan pkl
Sabtu, 28 September 2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah dengan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas kelimpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul “Inventarisasi Kupu – kupu di Kawasan Aboretum Cibubur Jakarta timur.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan, walaupun demikian penulis berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan penulis . Kritik dan saram yang membangun dari pembaca sangat diharapkan oleh penulis, sehingga nantinya penulis dapat memperbaikinya.
Jakarta, Agustus 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi termasuk fauna kupu-kupu. iklim tropik indonesia menjadi habitat yang sangat baik,. saat ini diperkirakan kupu-kupu indonesia terdapat sekitar 4.000-5.000 jenis, namun baru setengah dari jumlah tersebut yang sudah teridentifikasi jenisnya (Tsukada 1982; nayar et al, 1976; Fatimah 2011).
Kupu – kupu termasuk satwa yang masa hidupnya sangat singkat. Tetapi memiliki peranan yang sangat penting bagi lingkungan. selain sebagai penyerbukan pada tanaman, juga sebagai indikator keseimbangan lingkungan dan sebagai salah satu penyeimbang rantai makanan di alam. Bagi manusia, kupu – kupu sangat penting karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi yaitu koleksi spesimen dan seni budaya seperti digunakan untuk bahan pola dan seni (Boror et al, 1992 ; achmad 2002; shahabudin, 2003).
Kupu-kupu merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekargaman jenisnya. kupu-kupu mempunyai nilai penting antara lain : nilai ekologi, endemisme, konservasi, pendidikan, budidaya, estetika dan ekonomi (Achmad, 2002 ; Rahayuningsih 2012).
B. Permasalahan
Permasalahan yang menjadi dasar penelitian ini dilakukan adalah, yaitu :
Kurangnya informasi yang berkesinambungan mengenai keanekaragaman dan kelimpahan kupu-kupu.
kurangnya informasi tentang identifikasi kupu-kupu khususnya di hutan kota.
C. Batasan Masalah
Pada penelitian ini hanya membatasi beberapa kategori, yaitu :
Mendata keanekaragaman jenis kupu-kupu dari tiap jalur yang sudah ditentukan pada area penelitian.
Mendata kelimpahan kupu-kupu pada tiap habitat.
D. Tujuan
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui :
Informasi keanekaragaman jenis kupu-kupu yang berkesinambungan di Kawasan Aboretum cibubur Jakarta Timur.
Data kelimpahan setiap jenis kupu-kupu yang ada di Kawasan Aboretum cibubur Jakarta Timur.
E. Manfaat
Dengan dilaksanakannya penelitian ini, diharapkan hasilnya dapat memberikan informasi fauna khususnya kupu-kupu di Kawasan Aboretum cibubur dan dapat dijadikan sebagai bahan penyusunan kebijakan yang berhubungan pada konservasi dan pengelolaan hutan kota yang baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klarifikasi Lepidoptera (kupu-kupu)
Kupu-kupu termasuk dalam bangsa atau ordo Lepidoptera karena memiliki sayap yang dipenuhi oleh sisik yang halus. Lepido yang berarti (sisik) dan Ptera yang berarti (sayap-sayap). Menurut Boror et al, (1992); Fatiamah (2011) secara taksonomi kupu-kupu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthopoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Papilionidae
Papilionidae
Pieridae
Danaidae
Satryridae
Amathusidae
Nymphalidae
Libytheidae
Lycaenidae
Hespiriidae
B. Morfologi Lepidoptera (kupu-kupu)
Bentuk tubuh kupu-kupu terbagi menjadi tiga bagian yaitu caput (kepala), toraks (dada) dan abdomen (perut).
1. Caput (Kepala)
Kepala kupu-kupu gerakannya terbatas, oleh karena itu terdiri dari 6 ruas. Tiga ruas pertama berasosiasi dengan tiga komponen sensori yaitu mata majemuk, mata tunggal, dan antena (sungut). Tiga ruas lainnya berasosiasi dengan bagian mulut. Mandibula (rahang bawah) kupu-kupu yang asalnya sebagai alat pengigit, mereduksi, maksila, bersatu disebut probosis. Apabila tidak sedang digunakan Probiosis ini digulung, dan dapat dijlurkan kembali untuk mengambil nektar bunga. Palpus labialis, merupakan bagian bibir yang sangat sensitif sebagai alat peraba (Anggaraitoningsih & Aswari, 2003 ; Fatimah, 2013)
2. Toraks (dada)
Toraks kupu-kupu sangat berbeda dengan abdomen dan kepala. Toraks ini tempatnya melekatnya kepala yang dihubungkan oleh selaput tipis yang merupakan leher sehingga kepala dapat digerakkan. Toraks kupu-kupu dilengkapi dengan ruas-ruas yang kuat membentuk kotak, yang sepenuhnya berisi otot, terbagi menjadi Pro-toraks, meso-toraks, dan meta-toraks. passangan kaki depan melekat pada pro-toraks, sedangkan kaki tengah dan pasangan sayap depan melekat pada meso-toraks tempat melekatnya pasangan kaki belakang dan pasangan sayap belakang. Ruas toraks kedua dan ketiga (meso dan meta-toraks) merupakan pendukung kuat dari kedua pasang sayap kupu-kupu. Disamping adanya kaki dan sayap, di kedua belah sisi toraks dilengkapi dengan 2 pasang lubang spirakel, yang berfungsi sebagai lubang bernafas (Anggaraitoningsih & Aswari,2003 ; Fatimah 2011).
Kaki kupu-kupu terdiri atas koksa, trokanter, femur, tibia dan tarsus. Tarsus, biasanya 5 ruas yang dilengkapi dengan sepasang kuku. jumlah dari ruas-ruas tarsus ini sangat bervariasi tergantung jenis dan kelaminnya. kaki dengan kupu-kupu biassanya sangat sensitif, sangat berguna dalam mengenali adanya nektar, bunga atau pasangannya. disamping itu kaki kupu-kupu kadang-kadang dilengkapi dengan spina atau taji yang berguna untuk membantu berjalan (anggaraitoningsih & Aswari, 2003 ; Fatimah, 2013).
Sayap kupu-kupu umumnya berbentuk hampir segitiga, namun beberapa famili kupu-kupu sangat bervariasi. Sayap kupu-kupu ditutup oleh sisik halus, dibawah mikroskop bentuknya terlihat sangat beragam ada yang membuat sayap kupu-kupu menjadi berwarna-warni. Sayap merupakan organ yang terpenting bagi pergerakan kupu-kupu berupa selaput tipis dan dilengkapi dengan vena-vena sehingga memperkuat melekatnya sayap pada toraks. Distribusi vena-vena ini sama pada setiap jenis kupu-kupu. Bentuk atau percabangan dan susunan gurat-gurat atau venasi sayap (apabila sisik dihilangkan) dapat merupakan salah satu ciri untuk mengenal jenis kupu-kupu (Anggaraitoningsih & Aswari,2003 ; Fatimah 2011).
3. Abdomen (perut)
Perut kupu-kupu pada dasarnya terdiri atas 10 ruas, dengan ruas terakhir mengalami modifikasi menjadi alat kelamin. Pada sisi-sisi bagian perut terdapat 6-7 pasang spirakel. di dalam abdomen ini terdapat alat pencernaan, jantung, dan organ kelamin serta otot yang kompleks (Anggaraitoningsih & Aswari, 2003 ; Fatimah 2011).
C. Sirkus hidup Lepidoptera (kupu-kupu)
Kupu-kupu dimasukkan kedalam kelas insecta dikarenakan memiliki tubuh beruas- ruas dengan kaki tiga pasang. Kupu-kupu merupakan serangga terbang yang mengalami metamorfosa sempurna. kehidupan kupu-kupu dimulai dari telur – larva – pupa (kepompong) – dewasa. Pada fase larva kupu-kupu lebih dikenal dengan ulat. Pupa atau lebih dikenal dengan sebutan kepompong adalah dimana fase ini disebut dengan fase diam atau tidur, karena pada fase ini tidak ada katifitas yang dilakukan (Boror et al., 1992 ; fatimah, 2011).
1. Telur (Egg)
Telur kupu-kupu sangat bermacam-macam bentuk dan warna, beberapa bentuknya seperti terpahat sangat indah. Telur kupu-kupu ada yang seperti oval, bulat, atau setengah bulat. telur dilengkapi dengan perekat yang sangat kuat dan ukurannya pun sangat bervariasi. ada yang berkelompok dan ada juga yang satu per satu. Normalnya waktu yang diperlukan telur untuk menjadi larva adalah 1 minggu atau lebih (Nayar et. al, 1976).
pada tahapan ini sangat rawan terhadap predator seperti pada jenis Hemiptera dan larva Coleoptera. Oleh sebab itu kupu-kupu punya strategi untuk bertahan hidup yaitu dengan cara memproduksi telur dalam jumlah yang banyak. Ini bisa mencapai 500 telur, tetapi rata-rata menghasilkan telur antara 200 - 300 telur(Fetwell 1986).
2. Ulat (Larva)
Larva atau ulat adalah tahap makan banyak, oleh sebab itu serangga ini melindungi dirinya dengan cara kamuflase ataupun dengan adanya bulu-bulu atau rambut yang terdapat dipermukaan tubuhnya (Feltwell, 1986).
Larva mengalami pergantian kulit sebanyak 4 – 5 kali, pergantian kulit ini disebut moulting dan tahap – tahapanya disebut instar. Pergantian kulit tersebut berlangsung cepat sebelum kulit luarnya mengeras. Kulit luar larva terakhir akan terlepas setelah kepompong terbentuk dibawahnya (Hasanah,2005 ; Fatimah,2011).
3. Kepompong (Pupa)
Kepompong merupakan tahapan antara antara ulat sepenuhnya tumbuh dan menjadi kuupu-kupu. Memiliki tahap kepompong paada serangga berarti bahwa ia memiliki metamorfosis yang lengkap, setiap tahap keempat : telur, ulat, kepompong dan dewasa berbeda satu sama lain (Feltwell, 1986).
4. Kupu-kupu dewasa (Imago)
Kupu-kupu membutuhkan nektar untuk kebutuhan vitalnya sebagai sumber energi. Kupu-kupu hidup antara 2 minggu hingga 10 bulan, tergantung pada ada atau tidak adanya masa hibernasi (Feltwell,1986).
Kupu-kupu dewasa keluar dari pupa setelah tahap perkembangannya selesai. Proses tersebut biasa berlangsung pada hari yang cukup cerah. sayap kupu-kupu yang mulanya berkerut berangsur-angsur mengembang. Hal tersebut terjadi karena terdapat cairan yang dipompakan keseluruh bagian vena sayap.Waktu tersebut sangat kritis karena kupu-kupu menjadi sangat mudah diserang oleh pemangsanya. (Glassberg 2001 ; Nurlaila eka,2012).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat penelitian
Penelitian ini belangsung di Kawasan Arboretum hutan kota jakarta yang terletak di BUPERTA cibubur jakarta timur. terletak pada titik koordinat 60 21’ 46 ‘’ S 1060 54’1”E dengan ketinggian dengantopografi datar sampai landai setra bagian tengah cekung pada ketinggian ± 30 meter dari permukaan laut
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Broad survey yaitu dengan melakukan pengamatan dijalur yang telah di tentukan sebelumnya.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Jaring ayun serangga udara (insecnet)
Pinset
Kaca pembesar (LUP)
Pensil & Pulpen
Jarum pinning
kertas papilot
Plastik klip
Camera digital
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Alkohol 70 %
Kapas
Kapur barus/ kamper
kertas label
C. Waktu Pelaksanaan
Waktu dan pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan September 2013, seperti pada tabel berikut :
penelitian ini sekurangnya dilakukan sebayak 3 kali agar mendapatkan data yang lebih akurat dengan waktu atau jam yang sama.
D. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di 3 titik sesuai dengan pengambilan data yaitu pada Zona VII, zona VIII, dan zona IX dalam kawasan arboretum cibubur. hal tersebut agar dapat mengambil perbandingan antara zona pertama, kedua, dan ketiga agar data tersebut lebih akurat dalam penelitian kali ini.
berikut ini zona yang dilakukan unutk pengambilan data mengenai kelimpahan yang terdapat pada kawasan areboretum cibubur jakarta timur.
E. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode analisis data untuk dapat melihat kelimpahan kupu-kupu yang ada di arboretum cibubur jakarta timur. definisikeanekaragaman ada dua yaitu kekayaan spesies dan kelimpahannya. untuk melihat keanekaragaman terseebut, analisis yang digunakan yaitu menggunakan Indeks Keanekaragaman Shanon – Wiener di tiga jalur tersebut
1. Indeks Keanekaragaman Shanon – Wiener (H’) (Magurran, 1988) :
H’ = -∑ pi lnpi
dimana H’ = -∑ pi lnpi
H’ = Indeks Keanekaragaman
Pi = Proporsi individu pada i jenis ( ni/N )
ln = Logaritma natural
dimana : Pi = Ni/N
keterangan :
Pi = Proporsi Kelimpahan
Ni = Jumlah individu Spesies ke- i
N = Jumlah individu semua spesies
dimana H’ = nilai Indeks Shannon – wiener dan Pi = Proporsi dari tiap spesies i. Jadi H’ adalah jumlah dari seluruh Pi ln pi untuk semua spesies dalam komunitas (winarni, 2005).
Nilai H’ < 1,5 adalah rendah, H’ 1,5-3,5 adalah sedang dan H’ > 3,5 adalah tinggi (magurran, 1988).
2. Sebaran keanekaragaman Shannon (E) (magurran, 1988) analisis data untuk melihat kemerataan kupu-kupu yang ada yaitu :
E=H'/ln〖 S〗
Nilai E’ < 0,3 – 0,6 adalah sedang dan E’ > 0,,6 adalah tinggi (magurran, 1988)
Jumlah Kupu-kupu yang didapat kemudian dihitung kelimpahannya menggunakan Kelimpahan Relatif untuk melihat jenis kupu-kupu yang lebih dominan yaitu :
3. Kelimpahan Raelatif (maguran,1988)
Kr= Ni/(N. 100%)
BAB IV
Hasil dan pembahasan
A. Komposisi Kupu-kupu di Arboretum cibubur
Berdasarkan hasil penelitian, kupu-kupu yang dikoleksi dari tiga jalur (zona) dikawasan arboretum wanawisata cibubur tercatat sebanyak 57 individu dari kedua Famili yaitu Nymphalidae, dan pierridae. mayoritas banyak ditemukan yaitu spesies Nymphalidae saat penelitian tersebut.
Gambar : grafik komposisi 2 famili di 3 titik area arboretum cibubur
Gambar grafik diatas dapat diketahui persentasi setiap famili pada kupu-kupu yang ada dikawasan. komposisi dua famili di arboretum cibubur memiliki nilai yang bervariasi. persentassi tertinggi yaitu sebanyak 68% dengan jumlah individu 39 terdapat pada famili Nymphalidae dari 3 jalur . hal ini dikarenakan jenis-jenis tanaman pakan dari nymphalidae banyak ditemukan pada setiap jalur pengamatan.
Pada penelitian Sulistiani (2005)dan Hasanah (2005) mendapatkan komposisi famili yang memiliki nilai tertinggi dan dominan adalah famili nymphalidae. keanekaragaman kupu-kupu nymphalidae memiliki persamaan disemua daerah tropis yang ada didunia (sitompul,2008). hal ini disebabkan famili nymphalidae merupakan famili terbesar dari sekian banyak famili kupu-kupu (schulze & konrad,1998 dalam hasanah 2005 dalam Fatimah 2011). Kemudian famili yang ada diperingkat kedua yaitu sebanyak 32% dengan jumlah individu 18 adalah famili pieridae. Famili pieridae biasa disebut kupu-kupu Orange atau kupu-kupu putih. berukuran kecil sampai sedang. dan biasanya putih atau kekuningan dengan tanda-tanda hitam pada tepi sayap (Almaida,2005 dalam Fatimah,2011).
B. Kelimpahan dan keanekaragaman kupu-kupu
Kelimpahan disetiap jalur
secara umum tampak bahwa kelimpahan kupu-kupu dari 3 jalur yang ditentukan sangat bervariasi. jumlah tertinggi ditemukan zona ke 3 yaitu sebanyak 20 individu. kemudian tertinggi kedua ditempati oleh zona yang ke 2 sebanyak 19 individu, dan jumlah peringkat ke 3 ditempati oleh zona pertama yaitu sebanyak 18 individu.
Tabel :Jumlah Spesies dan Individu setiap jalur
Jalur jumlah individu jumlah spesies
Zona 1 (VII) 18 4
Zona 2 (VIII) 19 4
Zona 3 (IX) 20 3
Kelimpahan di setiap jalur memiliki jumlah yang berbeda. pada jalur ke tiga ( zona IX) terdapat jumlah individu yang terbanyak dari ketiga zona pengamatan yaitu sebesar 20 individu dengan jumlah spesies 3. jumlah ini lebih didominasi dari yang lainnya dikarenakan zona tersebut populasi pepohonannya rindang dan sinar matahari masih dapat masuk dengan cukup.namun lain halnya dengan zona pertama (VII) dan kedua (VIII) yang jumlah individu lebih sedikit dibandingkan dengan Zona ke 3, karena zona ke 2 dan ke 3 memiliki jumlah tingkat pepohonan yang cukup lebat sehingga sinar matahari agak sulit menembuh masuk hingga kedalam, namun jumlah spesies yang ditemukan lebih banyak dibanding dengan zona ke 3.
C. Faktor – Faktor yang mempengaruhi
menurut (permana, 2004) ada banyak faktor yang mempengaruhi keanekaragaman kupu-kupu disuatu tempat. perbedaan keanekaragaman antara lain dipengaruhi oleh suhu, ketinggian, cuaca, habitat, vegetasi, dan kelembaban. sushu pada ke tiga di area arboretum cibubur tidak jauh berbeda yaitu kisaran antar 22 – 320 C. dengantopografi datar sampai landai setra bagian tengah cekung pada ketinggian ± 30 meter dari permukaan laut. Jenis tanah latosol warna merah coklat. dibawah pengaruh curah hujan yang mencapai 2.800 mm pertahun, dengan 147 hari yang hampir merata setiap tahunnya ( depsos,1996).
Penelitian dilakukan dibulan agustus yang merupakan hampir akhir dari musim kemarau. menurut Fitriayanti (2008) awal musim kemarau ialah antara bulan mei dan juni, dimana biasanya tanaman akan mulai berbungan dan jumlah kupu-kupu akan banyak ditemui, karena pada musim hujan kupu-kupu akan berbiak. sehingga ketika penelitian dilakukan dibulan agustus kemungkinan pada bulan-bulan tersebut adalah bulan peralihan yaitu antara musim kemarau dan musim hujan. namun pada dasar sekarang ini musim-musim sudah tidak dapat diprediksi lagi, sehingga ketika saat penelitian disana, cuaca disana sangat terik sekali, namun jumlah populasi kupu-kupu disana sedikit sekali dan sangat jarang ditemui sekumpulan kupu-kupu yang hinggap maupun yang terbang dengan jarak – jarak yang tidak terlalu jauh.
Keberadaan kupu-kupu juga sangat dipengaruhi oleh keragaman vegetasi yang tumbuh dikawasan tersebut. keberadaan vegetassi sebagai inang dan pakan kupu-kupu sangat penting. ukuran dan sebaran tumbuhan inang juga berpengaruh besar dalam keberadaan kupu-kupu. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa tiap jenis kupu-kupu mempunyai kemampuan penyebaran yang berbeda(permana,2004 dalam Fatimah, 2011).
Pada ketiga jalur yang ditentukan memiliki keanekaragaman vegetasi yang sedikit berbeda tiap jalurnya, contohnya pada jalur / zona VII dan zona VIII hampir memiliki kesamaan pada vegetasinya. jenis vegetasi yang terdapat di zona tersebut yaitu Tectona gradis, acasia leucophloea, ceiba petandra, jenis-jenis Dipterocarpacae, Palagium sp, Kompassia sp. jenis-jenis tersebut merupakan Tropical law land evergreen rain forest atau yang biasa disebut tipe hutan dataran rendah yang selalu hijau yang ada di zona VII dan VII.
lain halnya dengan zona IX yang mayoritas vegetasi – vegetasi yang ada didalamnya yaitu Beach Vegetation seperti cocus nucifora, casuarina equsetifolio, baringtonia sp, dan Hibicus tiliaceus.
Maka dengan berbedanya jenis vegetasi suatu tempat ternyata juga mempengaruhi tingkat populasi, keanekaragaman dan juga kelimpahan kupu-kupu baik itu spesiesnya maupun jumlah individu itu sendiri.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan :
Terdapat 57 individu dan 8 spesies yang teridentifikasi dari 2 Famili yaitu Nymphalidae, dan Pieridae. dan dengan jumlah terbanyak yaitu pada Famili Nymphalidae sebanyak 39 individu.
Keanekaragaman tertinggi ditemukan di jalur (zona IX) sebanyak 20 individu dengan 3 jenis famili.
Faktor yang mempengaruhi perbedaan jumlah individu adalah cuaca, vegetasi, ketinggian, habitat, suhu, dan kelembaban.
B. Saran
Penelitian kupu-kupu di arboretum cibubur banyak dilakukan, sehingga penelitian lebih lanjut sangat disarankan dengan mengembangkan beberapa aspek lainnya dari kupu-kupu. selain keanekaragaman dan kelimpahan, sehingga informasi kupu-kupu dapat terus berkembang dengan sejalannya perkembangan jaman pada saat ini. Serta disarankan kepada pengelola Pusat agar senantiasa dilakukan penyuluhan kepada masyarakat sekitarnya, dan juga senantiasa melakukan promo kepada masyarakat ibukota, bahwa ditengah-tengah pusat ibukota jakarta ini terdapat hutan kota yang asri dan bisa sebagai kepentingan identifikasi yang berkenaan dengan dunia pendidikan atau yang lainnya
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, A. 1995. Habitat dan Pola sebaran kupu-kupu jenis komersi Di hutan wisata Batimurung, kabupaten Maros. sulawesi selatan.
Amir, M; Noerdjito, A ; & Ubaidillah, R, 1993. Butterflies of Batimurung, South Sulawesi. International Butterfly Confer – ence. Ujung Pandang. Indonesia
Anggaraitoningsih, W & Pudji, A. 2003. Metode survei dan pemantauan populasi satwa : kupu-kupu Papilionidae. LIPI : Bogor.
Borror, D. J : Johnson, N. F : & Triplehorn, C. A. 1992. An introduction to the study of insect. 6 th ed. New York, NY : Reinhart and Winston.
Fetwell, J . 1986 . The natural history of butterfly. Facks on file Inc : New York.
Fitrayani, T. 2008. Keanekaragaman kupu-kupu di Bodogol Taman nasional gunung gede Pangrango, Jawa Barat. Skripsi sarjana biologi F. MIPA Universitas negeri : Jakarta.
Fatimah, 2011. Keanekaragaman dan Kelimpahan kupu-kupu Famili Papilionidae, Nymphalidae, dan Pieridae di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Sukabumi Jawa Barat. skripsi Biologi Sarjana F. Sains dan teknologi Universitas Islam As- Syafiiyah : Jakarta
http://www.geoogle.com.id/image/kp=kupu-kupuhutantropis=blogspot.com/kupu-kupugifaaaasing/goestogreenimage. tanggal 28 septemebr 2013
Hasanah, N 2005 Struktur Komunitas Kupu-kupu Di Hutan Tropis (Studi Kasus Gunung Salak Jawa Barat). skripsi sarjana Biologi F. MIPA Universitas Islam As- syafiiyah : Jakarta
Magurran, A. E 2004. Measuring Biological Diversity. Blackwell Punlishing : UK
Putri, A. S. 2009. Perilaku kupu-kupu dalam Proses mencari Nektar Pada Bunga. Bekasi Utara. Jawa barat.
Shahabudin. 2003. Pemanfaatan Serangga Sebagai Bioindikator Kesehatan Hutan. Program Pascasarjana Fakultas sains. IPB : Bogor.
Tsukada, E 1981. Butterflies Of The South East Asian Island. Part II Plapac Co., Ltd.
Tsukada, E 1991. Butterflies Of The South East Asian Island. Part IV Plapac Co., Ltd.
Widiyanti, D. 2001 Data Base Taman Nasional Indonesia. Konphalindo : Jakarta.
Winarni, N. L. 2005. Analisa sederhana Dalam Ekologi Hidupan Liar. Pelatihan Survey Biodiversitas, Way Canguk. Lampung. Sumatera Selatan.
- Diposting oleh @uzuz89 |
- di 08.41
-
- Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar